Di Balik Jeruji, Masih Ada Tanah Papua
Di sini, di balik dinding tebal yang dingin dan kelam,
Di mana cahaya matahari hanya menyelinap lewat celah kecil di atas,
Aku bernapas, namun rasanya udara ini bukan milikku,
Berat, penuh debu, dan berbau besi yang berkarat.
Setiap langkah terhenti oleh batas yang tak terlihat ujungnya,
Jeruji besi tegak lurus, memisahkan raga dari dunia luar,
Namun percayalah, di dalam dada yang sempit ini,
Masih ada hati yang berdetak kencang, membawa nama Papua.
Dulu, aku terbiasa berlari di atas rumput hijau yang lembut,
Kaki telanjang menapak tanah basah yang subur dan hangat,
Mendengar suara burung Cenderawasih bernyanyi di antara pepohonan,
Melihat gunung-gunung menjulang menembus awan putih,
Dan sungai-sungai bening yang mengalir membawa cerita leluhur.
Itu adalah rumahku, tempat di mana jiwaku bebas terbang,
Tempat di mana nama bapak dan ibu dipanggil dengan bangga,
Tempat di mana setiap orang bersaudara, satu darah, satu rasa.
Kini, semuanya berubah menjadi bayang-bayang dalam ingatan,
Hanya sisa kenangan yang menjadi makanan di setiap malam panjang.
Di sel sempit ini, waktu terasa berjalan sangat lambat,
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari,
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun yang tak terhitung lagi.
Tidur di atas papan keras, berteman dingin yang menusuk tulang,
Makanan yang tak pernah sesuai lidah dan selera kami,
Bukan karena tidak enak, tapi karena rasanya asing, jauh dari tanah kelahiran.
Orang-orang di sini datang dan pergi, wajah-wajah asing berlalu-lalang,
Ada tatapan yang penuh tanya, ada juga yang penuh curiga,
Seolah kulit hitam dan rambut keriting ini adalah tanda dosa,
Seolah kami lahir hanya untuk diasingkan dan dikurung di sini.
Mereka mungkin mengira kami telah kalah, telah hancur, telah lupa diri,
Mereka mengira jeruji ini bisa mematahkan semangat yang tumbuh di lembah,
Mereka lupa, bahwa kami adalah anak-anak gunung yang tinggi,
Yang diajarkan berdiri tegak meski badai datang menghantam.
Setiap malam, saat sunyi menyelimuti seluruh ruangan,
Aku merapalkan doa dalam bahasa yang hanya kami yang mengerti,
Bahasa yang diturunkan dari moyang kami, bahasa tanah dan air.
Aku berbisik pada angin yang entah dari mana datangnya,
"Bawalah salamku ke lembah Baliem, ke pesisir Teluk Cenderawasih,
Katakan pada saudara-saudara, kami di sini masih bertahan,
Katakan pada ibu, jangan menangis, karena namamu tetap kami jaga,
Katakan pada bapak, tongkat kekuatan yang kau beri, masih ada di tangan."
Di dalam penjara ini, kami belajar arti kesabaran yang paling berat,
Menahan rindu yang membakar dada, menahan marah yang tertahan,
Melihat keadilan yang berjalan dengan langkah yang tak sama panjangnya,
Mendengar hukum bicara dengan suara yang kadang tak berpihak pada kami.
Namun, di antara dinding yang dingin ini, kami menemukan satu hal penting:
Bahwa mereka bisa mengurung tubuh kami, mengunci tangan dan kaki kami,
Mereka bisa membatasi ruang gerak, memotong akses, dan membungkam suara,
Tetapi satu hal yang tak akan pernah bisa mereka ambil atau hilangkan:
Yaitu harga diri kami sebagai orang Papua, dan cinta kami pada tanah ini.
Kami hidup di sini bukan sebagai orang yang kalah,
Melainkan sebagai saksi sejarah yang menunggu waktu berbicara.
Setiap goresan di dinding sel ini adalah tanda bahwa kami ada,
Setiap detak jantung kami adalah bukti bahwa kami belum mati.
Walau raga terkurung di kotak batu yang sempit dan gelap,
Pikiran kami tetap terbang bebas menyeberangi lautan dan bukit,
Jiwa kami tetap tinggal di sana, di antara hutan dan sungai,
Di tanah yang kami cintai, tanah yang kami perjuangkan sampai napas terakhir.
Jika nanti kau bertemu orang Papua di balik jeruji besi,
Jangan lihat kami hanya sebagai tahanan atau orang yang bersalah,
Lihatlah kami sebagai pohon yang akarnya tetap kuat meski batangnya dibengkokkan,
Lihatlah kami sebagai nyala api yang tak padam meski tertutup debu tebal.
Karena bagi kami, hidup di dalam penjara hanyalah ujian perjalanan,
Bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari perjuangan panjang.
Papua ada di dalam darah kami, di setiap hembusan napas kami,
Dan di balik jeruji ini pun, kami tetap hidup, tetap menjadi orang Papua,
Yang menanti hari di mana kebebasan sejati akhirnya datang menyapa,
Dan kami bisa pulang, kembali ke pangkuan tanah ibu, untuk selamanya.
by maipai

SELAMAT KOMENTAR