SELAMAT DATANG BERKUNJUNG DI BLOG " YEWOPO WEDAUMA"
Type Here to Get Search Results !

puisi Di Balik Jeruji: Nyawa Papua di Penjara

Di Balik Jeruji: Nyawa Papua di Penjara

 

Di sini, di balik tembok tebal yang dingin dan kelabu,

Langit yang kulihat hanya sepotong kecil, berbingkai besi berkarat,

Udara yang kuhirup bukanlah angin segar dari lembah kami,

Bukan bau tanah basah, bukan wangi bunga di hutan Papua,

Melainkan bau apek, debu, dan rasa pahit yang menempel di tenggorokan.

 

Aku lahir di bawah pohon besar yang menjulang tinggi,

Tempat burung-burung surga bebas terbang menyapa pagi,

Di mana sungai jernih membelah bukit-bukit hijau,

Di mana suara tawa saudara bergema di setiap sudut kampung.

Namun sekarang, kakiku terbelenggu rantai yang berat,

Tangan yang dulu bebas menyentuh awan dan memegang panah,

Kini kaku, dingin, dan terbatas oleh ruang sempit ini.

 

Dinding-dinding ini seolah menjadi perbatasan dunia yang lain,

Di sini waktu berjalan lambat, seolah berhenti berdetak,

Siang dan malam terasa sama saja, tak ada beda terang dan gelap,

Hanya cahaya lampu redup yang menyinari wajah-wajah lelah.

Kami tidur berdesakan, di atas alas yang keras dan tipis,

Mimpi kami sering kali terbang kembali ke tanah kelahiran,

Melihat ibu yang menangis di beranda rumah,

Melihat ayah yang menatap jauh ke arah timur dengan pandangan kosong,

Melihat saudara-saudara yang berjalan jauh, namun tak bisa mendekat.

 

Mereka berkata kami melanggar aturan, kami melawan hukum,

Tapi benarkah hukum ini datang untuk melindungi kami?

Ataukah hukum ini hanya rantai lain yang dikirim ke tanah kami?

Kami merasa terasing, seolah kami adalah orang asing di negeri sendiri,

Bahasa kami sering tak dimengerti, suara kami sering tak didengar,

Kisah hidup kami ditulis ulang oleh orang-orang yang tak pernah tahu,

Betapa dalam rasa cinta kami pada tanah yang kami pijak.

Di dalam sel ini, kami bukan sekadar tahanan biasa,

Kami adalah orang-orang yang memikul beban sejarah yang panjang,

Setiap luka di tubuh ini adalah jejak perjalanan bangsa kami.

 

Roti kering dan air yang diberikan hanya sekadar untuk bertahan hidup,

Bukan untuk tumbuh, bukan untuk kuat, hanya agar napas tak berhenti.

Namun di dalam dada ini, ada api yang tak pernah padam,

Api yang diwariskan leluhur, api cinta pada tanah air,

Api kebanggaan bahwa kami adalah anak-anak gunung,

Anak-anak sungai, anak-anak hutan yang tak akan tunduk begitu saja.

Meski badan kami dikurung, pikiran kami tetap terbang bebas,

Menembus dinding beton, melintasi lautan, sampai ke puncak Jayawijaya,

Menyapa salju abadi yang masih putih dan suci, sama seperti hati kami.

 

Di sini kami belajar sabar, meski sabar itu terasa menyakitkan,

Kami belajar memaafkan, meski luka itu masih basah dan perih,

Kami saling menguatkan, sesama anak Papua yang bernasib sama,

Menjadi saudara dalam penderitaan, menjadi keluarga dalam kesunyian.

Kami bercerita tentang kampung halaman, tentang adat, tentang lagu,

Agar budaya kami tidak mati meski kami terkurung di sini,

Agar jiwa kami tetap Papua, meski badan kami terikat rantai.

 

Dinding penjara ini boleh membatasi gerak kami,

Boleh menahan langkah kami agar tak pulang ke rumah,

Boleh membuat kami jauh dari orang yang kami cintai,

Tapi satu hal yang tak akan pernah bisa mereka ambil:

Adalah harga diri kami, adalah kebenaran yang kami pegang,

Adalah keyakinan bahwa tanah ini adalah milik kami,

Dan suatu hari nanti, cahaya keadilan akan masuk ke ruang ini,

Membuka pintu besi yang terkunci rapat,

Membebaskan kami, dan membiarkan kami pulang,

Pulang ke pangkuan Ibu Pertiwi kami, pulang ke tanah Papua yang tercinta.

 

Sampai hari itu tiba, kami akan tetap berdiri tegak,

Di balik jeruji ini, kami tetap hidup, kami tetap bernyawa,

Menjadi saksi bisu, menjadi bukti,

Bahwa orang Papua tidak akan hilang, tidak akan padam,

Meski hidup di dalam penjara, kami tetap Papua,

Dan Papua akan selalu hidup di dalam dada kami.

 

 

by maipai

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.